kita nyeduh untuk siapa

Sebuah obrolan transisi menuju tidur tercetus semalam akibat sebuah kesempatan bermain dengan sebuah mesin canggih. Soal bagaimana mesin-mesin canggih ini mengijinkan seorang barista mentweak proses ekstraksi untuk mendapatkan hasil yang yang optimum.

Nah, persoalan muncul ketika kata optimum ini dibahas. Optimum dari kaca mata siapa?

Selalu menjadi masalah adalah ketika rasa enak diperdebatkan. Bahwa rasa enak itu relatif, dan merupakan hak setiap orang, itu sangat saya percayai, namun apakah itu membuat konsumen selalu benar? Bila kita memposisikan diri sebagai seorang konsumen, tentunya kita akan merasa seperti itu. Uang saya, lidah saya, saya yang minum. Namun disisi lain, apakah kita kenal kopi yang dipergunakan atau disajikan? Apakah kopi tersebut adalah sebuah pemuas ritual harian, atau sebuah media pertualangan.

Bila kita menyeduh sendiri, permasalahan itu tidaklah besar. Kita, secara teori, semestinya tahu apa yang kita mau, namun bila memesan, dapatkah kita menyampaikan keinginan kita
Continue reading “kita nyeduh untuk siapa”

Coffee Killer

Enak itu selera, saya setuju dan percaya sekali dengan itu, namun pertanyaan “kopinya enak gak mas?” sering kali membuat gamang saya yang memiliki kemampuan basa-basi relatif minim ini.

Saya selalu menikmati perjalanan ke daerah. Dalam setiap perjalanan, pasti ada saja hal baru yang saya pelajari. Dalam perjalanan pula saya dapat bertemu dengan muka-muka yang menggeluti larutan hitam yang mewarnai hidup saya sehari-hari. Namun ada masa dimana dalam perjalanan itu saya mengalami dilema, apakah lebih baik menjaga muka, atau jujur apa ada.

Bukan apa-apa. Saya yang datang sebagai penikmat seringkali datang ke daerah dengan sebuah persepsi rasa. Persepsi rasa yang ada, dibentuk oleh pengalaman mengecap kopi sangraian roaster-roaster berpola pandang modern, yang membatasi waktu sangrainya sekitar 20 menit saja. Sementara ketika berkunjung ke daerah, mereka terbiasa dengan pola sangrai tradisional. Pola sangrai yang kadang bisa memakan waktu hingga 4 jam lamanya.

Apakah yang membedakan antara sangrai 20 menit-an dan yang berjam-jam? Saya tahu roasting hanya dari teori, dari membaca dan menguping perbincangan teman-teman roaster, namun yang bisa saya garis bawahi adalah, semakin lama biji kopi disangrai, maka hingga di satu titik, karakter rasa yang ada akan luruh. Peluruhan karakter rasa ini biasa didefinisikan dengan satu kata sakti. Kata yang bagi sebagian penikmat kopi modern langsung terbayang kopi yang sudah “mati” Kata tersebut adalah baked.

Proses peluruhan rasa pada kopi yang disangrai terlalu lama ini tidak pandang bulu. Baik karakter positif maupun negatif akan hilang, meninggalkan kita dengan karakter kata pahit yang biasa kita rangkum dengan kata rasa kopi. Bila kita mengharapkan karakter halus kopi menggoda lidah, proses sangrai lama akan membebaskan kita dari godaan, karena godaan tersebut sudah menguap bersama asap kala sangrai. Namun disisi lain,sisi positifnya, karakter rasa negatif yang dihasilkan dari biji-biji dengan muatan cacat tinggi pun akan hilang tersamar, sehingga sang kopi terasa aman kala diseruput.

Disinilah dilema yang saya sebut diatas seringkali terjadi. Pertanyaan atas kualitas kopi yang saya sesap membuat otak berpikir. Sedih ketika biji baik yang dipergunakan dihapus rasanya oleh proses sangrai yang salah, namun lebih sedih lagi ketika karakter negatif dari biji-biji sisa sortiran menari bahagia di lidah, akibat proses sangrai yang mencoba mengadaptasi pola sangrai modern.

Ya, enak itu berbeda-beda. Saya sadar dan percaya hal itu. Sebagai orang timur kita diajarkan untuk menjaga muka. Pasang muka tersenyum, dan coba dengan sekuat tenaga, memaksa diri untuk bilang enak. Tapi disisi lain, saya merasa kalau itu dilakukan, proses pembodohan dilaksanakan. Yes, ignorance is a bliss, tapi mau sampai kapan hal ini terjadi. Tidak mudah bagi saya untuk menjelaskan mengapa saya tidak menikmati kopi yang disuguhkan. Tidak mudah karena harus menjabarkan dua pola pandang yang berbeda.

 

 

 

Slap in the head

Coffee does wonder for me. Gak cuma memberikan kebahagiaan, kehangatan, dan asupan kafein, tapi kadang entah bagaimana kopi seringkali membantu mengingatkan diri untuk kembali mawas diri, jangan sombong gak tahu diri.

Orang yang kenal dengan saya pasti tahu bahwa saya semakin lama semakin skeptis dengan kopi luwak. Pertanyaan “is it worth it?” selalu mengambang di setiap cangkir yang diseruput. Antara apa yang dirasa dan apa yang dibayar, apakah sebanding? Melihat sedemikian banyaknya pengusaha luwak saat ini, dengan seribu satu marketing gimmick, dalil dan dalih, membuat keskeptisan itu jatuh makin dalam. Ketika yang dijual adalah kesaktian, hal hil ekstra yang demi kesehatan, kepala menoleh semakin jauh ketika kata kopi luwak disebut.

Namun sesuatu terjadi sabtu dan minggu lalu di Surabaya…

Diantara sederet sample kopi yang harus diuji citarasa ada satu ataudua yang membelalakkan mata.  Karakter rasa cantik dan anggun, dengan karakter buat yang sangat kuat, aroma yang menyenangkan, dan aftertaste yang lama, lembut dan menyenangkan. Karakter yang berbeda dengan apa yang biasa dicoba, dan yang pasti berbeda dengan sample-sample lainnya. Sedemikian manis dan cantik, sebuah pertanyaan muncul menyeruak perlahan, jangan-jangan ini luwak.

Dengan nilai akhir uji citarasa sebesar 86,04 , kedua tertinggi di lelang kopi specialty di Surabaya, kopi luwak Rejang Lebong Bengkulu ini memang membuat lidah terpana. Dua tahun yang lalu ketika lelang ini diadakan, deretan kopi luwak gagal membelai lidah. Seingat saya tidak ada yang berhasil membuka mata dan membuat mulut ternganga. Luwak rejanglebong ini dengan sukses melakukan keduanya.

Kepala berasa dikeplak. Kopi luwak seakan kembali unjuk gigi, bahwa bila diolah dengan benar, kualitas mereka secara rasa bisa dipertanggungjawabkan. Bahwa ketika diuji secara blind tasting, kopi ini masih bisa berteriak lantang memamerkan kecantikannya, diantara kopi-kopi terbaik di negeri ini. Sayangnya tidak semua luwak yang ada di lelang ini bisa melakukan hal yang sama.

Hari minggu ketika lelang dilaksanakan, lidah yang menari riang kembali melambat, dan otak berpikir. Apakah benda cantik ini layak dipinang dengan harga biji hijau Rp.1.500.000,00/kg seperti yang diminta penjualnya. Bila green beannya seharga itu, paling murah roasted beannya akan dijual dengan harga dua kali lipat. Tiga juta rupiah perkilo yang berarti kurang lebih Rp.30.000,00/cangkir untuk biaya bahan di kedai kopi. Artinya bila si pihak cafe baik, maka kopi ini akan dijual dengan harga paling murah Rp.150.000,00 Apakah worth it? Bila melihat kopi-kopi luwak gak jelas dihargai 100-200 ribu secangkir, tentu akan terasa sangat worth it, tapi apakah secara rasa jujur-jujuran bila tanpa ada embel-embel luwak akan seberharga itu? Nggak juga sih.

Kedua hari itu otak dan lidah disadarkan. Bahwa bila diijinkan, dan ditangani dengan baik, kopi luwak bisa terasa sangat enak. Namun bagaimanapun apakah secara rasa sedemikian lebih cihui hingga harus bayar semahal itu? Saya jujur lebih memilih kopi ferment hasil roastingan Manuel Diaz kemarin.

 

Satu fakta menarik soal industri kopi luwak di Rejang Lebong. Menurut kantor berita Antara pada artikelnya yang diterbitkan tanggal 9 Maret 2011, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Rejang Lebong menyatakan bahwa disana tidak ada luwak seekorpun. Menilik pernyataan tersebut, artinya kopi luwak yang diikutkan merupakan hasil dari luwak expat yang kemungkinan besar dikandangkan.

Redemned Sins

Ferment! mungkin ini adalah salah satu kata yang akan membuat tengkuk seorang penguji citarasa berdiri ketika mendengarnya. Terbayang rasa yang sedemikian kuatnya yang bisa menutup indera pengecap hingga akhir hari. Rasa/aroma spesifik yang oleh beberapa orang disederhanakan dengan menggunakan kata “seperti nangka”

Ferment adalah sebuah karakter cacat yang disetujui oleh para penguji citarasa sebagai cacat yang cukup mengganggu. Ferment akan menggambarkan ada sebuah kekacauan dalam proses pasca panen. Munculnya karakter ini walau sedikit dapat menggagalkan proses jual beli sejumlah kopi. Namun masalah dari ferment ini adalah karakter ini baru muncul ketika biji ini sudah disangrai dan diseduh. Susah untuk memilah mana biji yang ferment atau tidak secara visual, berbeda dengan cacat besar dan kecil yang tampak  dalam kodisi biji hijau.

“Jangan menghakimi biji kopi” demikian Manuel Diaz berkata kepada saya siang itu. Manuel Diaz adalah seorang pelatih dari CQI, dengan latar belakang yang sedikit berbeda. Berasal dan masih tinggal di Meksiko yang juga negara penghasil, beliau memiliki kedekatan dengan kopi sejak kecil. “ketika kita menemukan cacat dalam karakter rasa kopi, tugas kita (seorang roaster) adalah untuk memolesnya, dan mencoba mendapatkan yang terbaik dari biji tersebut” Mendengar itu sesaat otak melantur ke perbincangan dengan seorang roaster di Jakarta. ” Biji bagus hasil bagus itu biasa, wajib malah, namun seorang roaster yang baik akan bisa merubah biji jelek menjadi produk yang menyenangkan”

Dalam kelas roasting yang diadakan AKSI beberapa waktu yang lalu, Manuel Diaz meroast beberapa kopi. Satu diantaranya membuka mata dan membuat saya merinding. Bali kintamani natural process ini tercium kental bau ferment ketika digiling. Sedemikian kuat hingga saya yakin penguji citarasa dari negara-negara jepang atau amerika akan mundur teratur ketika menciumnya. Namun ketika diseduh, bau dan rasanya berubah menjadi anggun dan cantik. Kopi terasa manis dan bersih, namun memiliki karakter buah yang kompleks. Kopi ferment ini ternyata sangat cantik.

Sambil menyeruput teringat pengalaman 7 tahun lalu ketika mengikuti pelatihan di Jember. Satu set kopi nangka menjadi perusak hari. Lidah kelu dan kaku, kehilangan kemampuan mengecapnya hingga di akhir hari. Jadi berpikir, apabila kopi tersebut disangrai dengan baik, seperti yang dilakukan Manuel Diaz, apakah hari itu akan menjadi indah?

 

keputusan kelompok

Sabtu lalu sebuah ketidak PD-an melanda diri. Pagi itu sebuah seleksi akan dilakukan, untuk memilih 12 dari 27 orang penguji citarasa (cupper) yang akan membantu menilai kopi di final Lelang Kopi Specialty yang diadakan Asosiasi Kopi Specialty Indonesia. Berada diantara peguji citarasa Internasional dari Korea, Taiwan, Hongkong, Amerika Serikat, Mexico hingga Australia membuat rasa percaya diri yang biasanya ada ciut entah mengapa. Beberapa diantara mereka menyandang gelar sebagai pelatih dari Coffee Quality Institute, beberapa memiliki laboratorium terstandar SCAA, dan beberapa yang lain merupakan pembeli kopi dari perusahaan-perusahaan besar. Dari 27 orang tersebut, hampir setengahnya adalah orang-orang hebat tersebut.

Hari dimulai dengan proses kalibrasi. Kalibrasi ini bertujuan untuk menyamakan persepsi antar cupper, hingga ketika nanti diminta menilai, tidak ada penguji citarasa yang melenceng jauh lepas dari kelompok.  ke 27 orang tersebut dibagi menjadi 4 kelompok, dan setiap kelompok diketuai seorang pelatih CQI. Saya merasa beruntung karena meja saya dikepalai oleh Manuel Diaz. Bukan apa-apa, beda guru beda gaya, demikian juga dengan para pelatih CQI. Hal pertama yang berbeda ketika menguji citarasa dengan Manuel Diaz adalah perlakuan terhadap bubuk kopi yang hendak dicium baunya. Bila biasanya seorang penguji citarasa mengangkat gelas tersebut, mengetoknya sedikit dengan tangan, agar bau bubuk kopi kering  bisa lebih tercium, maka di meja kami, hal tersebut tidak diijinkan. Alasan mr. Diaz melarang adalah agar antara sample yang satu dan lainnya, walau dalam kelompok yang sama, tidak ada kesempatan tercampur. Masuk akal, walau membuat proses sedikit lebih susah. Setelah semua sudah mencium dan air kemudian dituangkan, tampak beliau mulai mencium perubahan aroma setiap gelas satu persatu. Awalnya saya bingung kenapa beliau melakukannya, tetapi, tidak ada salahnya diikuti, dan mengekorlah kami ber 5 dibelakang beliau. Setelah beberapa kali berkeliling meja dan membaui, waktu seduh 4 menit telah habis. Agar adil, kami diberi kesempatan memecah 1 dari 5 sample yang ada. Biasanya, setelah sample jatah kita sudah kita pecahkan permukaaan atasnya, kita masih akan menganalisa 4 sample lainnya untuk melihat inkonsistenitas. Kali ini yang dilakukan berbeda. Segera setelah 5 sample tersebut dipecahkan permukaan atasnya, Mr Diaz meminta kami segera membersihkan sample-sample tersebut dari rambangan, sebersih mungkin. Menurut beliau, sedikitpun minyak yang tersisa ikut terbawa ketika kita mengicip, maka lidah kita akan tertutup oleh lapisan minyak tersebut dan penilaian kita tidak akan akurat. Ilmu baru!

Kopi dicicip, nilai ditulis, dan kami dikumpulkan ke ruangan. Disini nilai dibahas, dan para instruktur pun memberikan penilaian mereka. Ini baru namanya kalibrasi, tidak hanya menilai, dikumpulkan dan gak jelas  artinya apa. Dalam kalibrasi ini kita bisa melihat apakah kita terlalu pelit atau terlalu royal dalam satuan kelompok. Pada saat kalibrasi ini terlihat bagaimana mereka yang berasal dari negeri pembeli cenderung menilai lebih tinggi kopi-kopi yang dinilai. Penguji citarasa lokal, cenderung lebih kritis dibanding mereka. Para penguji citarasa dari Jember bahkan lebih kritis lagi. 

Setelah kalibrasi, kami diminta kembali ke ruangan. Kali ini bahan yang diminta diuji citarasa merupakan bahan ujian kami. Karena bagi meja yang lain hembusan AC mengganggu kala harus menilai bau kering dan basah, maka untuk paruh pertama AC tersebut dimatikan dan ruangan menjadi panas. Karena meja kami dekat dengan grinder, maka dengan segera kami melakukan proses uji citarasa kami.

Giling-Cium-Seduh-Cium, dilakukan dalam ruangan yang semakin lama terasa semakin panas. Keringat sebesar butiran jagung tampak menetes dari kepala Mr. Diaz. keringat terasa pula menetes dikepala saya. Dalam kondisi panas saya melakukan putaran 1 dari 3 putaran wajib ketika menguji citarasa kopi. Kopi harus diuji dalam 3 putaran karena ketika waktu dan temperatur berubah, karakternya akan berubah pula. Baru pada putaran ke 2 AC bisa dinyalakan lagi, dan ketika saya melakukan penilaian ke 2, saya kaget dengan apa yang masukkan pada putaran pertama 1 tadi. Entah karena badan yang terasa tidak nyaman karena suhu yang panas, atau memang karakter rasa kopinya belum mengembang dengan cantiknya, nilai pada putaran 1 tadi tampak sangat rendah dibandingkan apa yang saya rasakan di penilaian ke 2 ini. Nilai rendah tersebut saya koreksi dan sergera setelah putaran ke 3 selesai, lembar penilaian saya kumpulkan.

Butuh waktu sekian lama hingga hasil keluar, dan alhamdulillah saya ada diantara 12 orang tersebut. Tapi hal yang menarik dari 12 orang ni adalah, sebagian besar merupakan para penguji citarasa yang berbasis di Jakarta, yang dulu memang sering berkumpul dan menguji bersama. hanya 2 dari 4 pelatih CQI yang masuk, dan tidak ada satupun penguji citarasa Australia yang terpilih. Kesimpulan kasar yang saya ambil dari kejadian ini adalah, sebaik apapun kita sebagai penguji citarasa, ketika kita menguji diluar area/kelompok kita, bisa jadi kita akan tersisih. Tersisih tidak berarti bahwa penguji citarasa tersebut memiliki kemampuan yang kurang. Tersisih berarti bahwa setelan rasanya berbeda dengan sebagian besar kelompok yang ada.

bahaya rasa aman

Rasa aman yang diobrolin ini bukan soal kemanan dari gangguan sekeliling ya… gak ada hubungannya dari kamtibmas 🙂 Yang nempel di kepala saya adalah makanan atau minuman yang membuat nyaman.

Setiap orang pasti memiliki makanan atau minuman yang bisa membuat aman. Minuman atau makanan yang diinginkan ketika kita sakit, sedih, atau capai. Bagi saya yang nggragas, makanan/minuman tersebut bisa sangat spesifik, namun ada juga yang tidak bisa lepas dari rasa aman tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Perhatikan sekeliling kita. Ketika makan siang bersama, kemungkinan besar ada yang hanya akan memilih makanan itu-itu saja, atau menambahkan sebuah bahan tertetu, contohnya kecap atau sambal. Bagi sebagian orang, kecap dan sambal merupakan sebuah selimut aman. Selimut aman dalam artian seperti apapun rasa makanannnya, rasanya akan tertutup sebagian oleh kedua bahan tadi. Semakin tidak merasa aman dengan rasa tersebut, semakin banyak kecap atau sambal yang diberikan.

Saya tidak menggugat rasa aman atau selimut pengaman tersebut. Kita semua membutuhkannya kadang kala. Untuk menset ulang diri, rasa percaya diri atau hati. Namun saya suka sedih melihat penggunaan makanan atau selimut pengaman tersebut, apabila dipergunakan sesama sejawat F&B.

Bagi saya lidah adalah salah peralatan penting bagi seorang juru masak, barista, bartender, roaster, atau siapapun yang hidup dari rasa. Senjata, yang tidak akan berguna bila tidak dibekali dengan amunisi berupa referensi rasa.

Dengan amunisi referensi rasa ini kita bisa mengubahsuai baik metoda masak, seduh, atau sangrai, agar bisa menuju atau mendapatkan karakter tersebut. Tanpa ini, kita bisa dibilang akan diperalat oleh bahan mentah yang kita pergunakan, bukan menggunakan bahan tersebut.

Lalu bagaimana cara memperbanyak amunisi referensi rasa ini? Dengan sedikit-sedikit mulai meninggalkan karakter rasa aman tersebut. Ijinkanlah lidah sedikit berpetualang, Ijinkan rasa baru masuk dan berkenalan. Bila sudah nyaman, ijnkan sang makanan/minuman bercerita lebih banyak. perhatikan detail-detail yang ada, karena detail-detail itulah rahasianya

coffee cupping vs coffee tasting

Siapa yang pengen belajar cupping? saya yakin bila anda seorang yang sedang terbius oleh kopi, ada sedikit hasrat untuk belajar sebuah ilmu yang menjadi dasar menilai sebuah kopi baik atau buruk. Namun apa sih cupping itu?

Cupping pada dasarnya adalah sebuah metoda mencoba kopi yang memiliki SOP yang sangat ketat. Disini miligram berarti, detik dihitung dan 1 derajat celcius bisa membuat perbedaan. Cupping didisain untuk menjadi sebuah alat terstandarisasi untuk melakukan sebuah penilaian pada kopi. Pentingkah belajar Cupping? well… tergantung. Kalau kita hendak bekerja dibidang kopi, mengerti tata cara cupping akan sangat membantu. Paling tidak ketika kita diberikan selembar kertas dengan berbagai kategori dan angka didalamnya, kita akan mendapat sebuah bayangan seperti apa kopi yang nanti akan kita hadapi nanti.

Lalu kalau bagi saya belajar cupping gak sepenting itu, apakah yang lebih penting? Yang lebih penting adalah belajar merasa!

Merasa, mengecap, atau memilah rasa mungkin tampak remeh buat sebagian besar orang, tapi kemampuan inilah yang membuat seorang barista bisa menjadi seorang juara, seorang somellier bisa memilihkan, menyimpan, atau berspekulasi soal wine, serta seorang chef bisa mendapatkan bintang Michelinnya. Dari kebiasaan untuk berhenti sejenak kala makan atau minum, mencoba berpikir sambil memilah karakter rasa apa yang ada, mengingat dan memasukkannya ke dalam perpustakaan definisi rasa yang ada di otak kita, kita nantinya bisa menggunakan database itu itu menyusun rasa menjadi sebuah resep yang menawan. Bagi saya pribadi, inilah kelemahan manusia F&B negeri ini. Mau yang bergelar sommelier, chef, barista, bartender, jarang dari mereka yang mencoba memperkaya khasanah rasa yang dimiliki dalam otaknya. Kata-kata standar yang biasa dibaca akhirnya seringkali menjadi acuan, dan produk makanan minuman atau makanan yang mestinya mengugah, seksi dan eksotis, hilang dibalik 1 kata yang bagi saya terdengar basi, yaitu kata Enak.

Secara biologis, manusia dibagi menjadi 2. Mereka yang memiliki indera pengecap normal, dan mereka yang sangat peka indera pengecapannya (super taster). Seorang cupper tidak butuh memiliki indera pengecapan yang sangat peka. Mereka yang memiliki indera pengecapan sangat peka bahkan biasanya tidak akan bisa menjadi seorang penguji citarasa. Karena pekanya indera mereka, sebuah rasa kecilpun bisa membuat mereka kalangkabut. Jadi jangan rendah hati bilang tidak bisa mengecap karena kita bukan seorang super taster. 

Belajar merasa (dan membaui) itu mudah dan murah. Kita bisa melakukannya sambil kita menjalani hidup. Apabila kita merasa kopi yang kita minum terasa asam, ayo kita pikir lagi, asamnya seperti apa. Asam Jeruk kah? kalau jeruk jeruk sunkist atau jeruk medan kah? Bagian mana dari jeruk tersebut yang merangsang lidah atau hidung kita; daging buah, kulitnya, bagian purtihnya, daunnya? Bayangkan, dari karakter jeruk saja banyak deskripsi yang bisa kita gambarkan. Apakah butuh ilmu tinggi untuk melakukannya? Saya rasa tidak. Apabila bila belajar untuk lebih memperhatikan apa yang masuk mulut atau menggoda hidung kita, kita semestinya bisa.

Manusia memiliki kemampuan mengecap yang luar biasa, dan kemampuan mengingat rasa yang luar biasa pula. Namun kita biasanya memiliki kesulitan kala mencoba menghubungkan sebuah bau/rasa yang kita coba, dengan padanan kata yang ada di kepala kita. Bagaimana kita bisa melatih menghubungkan bau/rasa dengan padanan kata? dengan mengicip kopi bareng teman dan mendiskusikan karakternya seperti apa. 

Setiap orang memiliki perbendaharaan rasa/bau yang berbeda-beda. Secara tidak sadar kita sudah menyimpan perbendaharaan tersebut selama hidup kita, dari makanan atau minuman yang kita makan sehari-hari. Karena dilakukan secara otomatis, maka seringkali kita tidak sadar bahwa kita sudah memiliki perpustakaan definisi rasa/bau di otak kita tersebut. Yang seringkali membuat kita tidak berani mengungkapkan padanan rasa/bau diotak seringkali adalah perasaan takut salah atau malu terlihat kampungan. Lha kalau wine yang saya minum mengingatkan saya dengan juwet atau durian, kenapa orang lain berhak protes? Wong yang punya hidung dan lidah ya saya.

Kembali ke cupping, ayo jujur-jujuran, mana yang terdengar lebih menarik, bahwa kopi itu memiliki angka 81, atau bahwa kopi tersebut memiliki karakter paduan karamel gula enau sedikit gosong dan bubuk cocoa, dengan sedikit aroma kulit jeruk sunkist, aroma ketumbar hijau, lada hitam, dan cabai kering, dengan akhiran yang meningatkan kita dengan gurih pahitnya alpukat yang dekat bagian kulitnya?

Buat saya, dalam konotasi diatas, angka 81 tersebut tidak menggambarkan apa-apa