segitiga robusta sumatra, gagal merangkum dalam kata (part-5)

Sumatra Selatan

Sumatra Selatan adalah akhir dari perjalanan panjang menjelajahi segitiga Robusta Sumatra. Disini akhirnya melihat kopi yg dijemur dijalan dan digiling ban kendaraan. Di propinsi ini pula saya bertemu dengan seorang petani tua yang mau berbagi cerita tentang kopi dan kampungnya yang nan cantik, serta merasakan penderitaan (gak bisa) tidur gara2 kamar di paling ujung deket toren dan sumur. DI Palembang, bertemu dengan beberapa teman berhati baik, yang mau berbagi cinta mereka melalui sebuah kedai kopi kecil yang mereka bina.

Banyak yang dipelajari, banyak yang dilihat dalam trip ini. Negeri ini memang indah, sayang kalau tidak kita eksplorasi, rawat dan cintai

This slideshow requires JavaScript.

feast for a king with peasants wallet – ikan bakar Caluk – Lovina Bali

tema perajalanan ke Bali kemaren, untuk sisi makanan, adalah pasrah dengan referensi pengemudi. Alasannya sederhana, pertama.. gak sempet menggali data dari internet. Kedua, siapa tahu ada yang mengagetkan dan menyenangkan.

Hari sudah malam ketika kami tiba di Lovina. Pemrosesan buah kopi di Subak Abian Kertawaringin Banjar Mabi Desa Belantih yang baru dilakukan sore hari (pk 18.30) memaksa kami baru bisa meninggalkan Kintamani pukul 8 malam. Ditengah dilema mau menginap dimana, dan perut lapar, sang pengemudi mengajak kami makan ikan bakar, dipinggir pantai, dengan harga terjangkau (+embel-embel sambalnya mantap)

Mata merem melek tidur tidur ayam terbangun kala mobil dihentikan. Perut yang lapar berteriak bahagia merasa dijanjikan makanan enak. Keluar mobil, dan kaki melangkah. Namun sebuah keraguan besar tiba-tiba menerpa. Untuk menuju tempat tersebut, sang pengemudi mengajak melangkahkan kaki menyusuri gang kecil gelap. Saking gelapnya, HP pun dinyalakan untuk memberikan penerangan seadanya. Sebelah kiri tembok tinggi sebuah bangunan, dan sebelah kanan tampak sebuah sungai kecil, yang mengalir menuju ke lautan. Diujung gang tampak sedikit penerangan, bias sinar yang keluar dari jendela beberapa rumah kecil. Kaki terus melangkah, dan hidung mencium bau yang dengan cepat muncul diingatan. Bau kotoran sapi!

Rupanya untuk mencapai tempat tersebut, selain harus melewati gang sempit gelap, deretan perahu nelayan, juga harus melewati sebuah kandang sapi, piaraan sekalian tabungan penduduk sekeliling. Kaki terus melangkah menyusuri pantai, dan tidak berapa jauh tampak deretan dangau dan sebuah bangunan permanen memancarkan bias lampu terang.

“Habis, sudah tutup Pak, tadi tutup jam 8…” sepenggal kata yang membuat rasa kecewa menyelubungi diri. Kembali kaki melangkah, kembali ke mobil, melewati kandang sapi, perahu nelayan, dan gang sempit bin gelap tadi. (Dan akhirnya makan apa coba….. Pecel Lele!… jauh jauh ke Bali makannya pecel lele yang dijual orang gresik. Sang penjual dengan enteng nyeletuk, “Pak, yang jualan sampai malam itu hanya orang jawa di sini”)

Karena penasaran, Besok siangnya diniatkan kembali ketempat ikan bakar tadi. Diterangnya siang, tampak plang kecil dipinggir jalan, mulai habis dimakan alam. Karena terang, dengan mudah kaki melangkah menapak jalan setapak. Tampak sungai kecil sebelah kanan bening mengalir perlahan menuju laut. Ikan kecil-kecil tampak berenang, sementara beberapa serangga bercengkerama disekitar bibir sungai. Diujung jalan setapak tampak seorang bapak sedang membenarkan mesin perahunya, dan diseblah kirinya 1 ekor sapi tampak memperhatikan sang bapak dari dalam kandangnya. Suara ombak pecah menghantam pasir terdengar berulang, dan selain itu dan langkah kaki kami, alam terasa tenang.

Dengan ramah sang pemilik warung menyapa, diantarkannya kami ke kotak pendingin merah, dimana ikan ikan tangkapan tadi pagi disimpan. Seekor cumi seberat 1,5 kg, seekor Kerapu merah, ekor kuning, dan baronang, semuanya berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan saya, serta seekor Bawal berukuran lebih dari 2 telapak tangan, kami pilih dan pesan. dengan sigap semua pesanan itu dibersihkan, dibumbui dan disiapkan untuk dibakar. Ketika kami memilih, sang ibu menyiapkan bakaran. sabut kelapa kering dia susun, dan segera dia bakar. Segera setelah sebagian sabut kelapa tersebut menjadi arang, ikan disusun, dan proses pemasakan dimulai.

This slideshow requires JavaScript.

Tidak ada hal lain yang bisa dilakukan kecuali menunggu, mengobrol dan menikmati keindahan alam. Pantai berpasir kehitaman tampak bersih dan enak dipandang mata. Suara hantaman ombak ke pasar membuat pikiran tenang dan nyaman. Saat ini, bagaikan berada di sebuah surga dunia.

Beberapa saat kemudian, tampak kesibukan meningkat di dapur. Nasi diporsi keatas piring piring kecil beralaskan kertas, sambal dan lalapan ditata, dan tidak berapa lama, ikan matang dihantar kemeja. Tidak banyak yang terjadi sesudahnya kecuali konsentrasi tinggi, melahap dan menikmati apa yang ada di depan kami. Seperti yang dijanjikan, sambalnya memang mantap. Sederhana, namun mantap. Ikannya sendiri dibumbui minim, membuat karakter manis khas ikan segar serta wangi khas asap sabut kelapa, keluar dengan cantiknya.

Tidak berapa lama, tampak kepuasan memancar dari muka 8 orang. Perlahan mereka bergerak memencar, mencari posisi nyaman untuk mencerna perta kecil kami tadi. Karena jadwal masih padat, bon kami minta. Dengan cepat sang ibu menghitung, dan menyerahkan bonnya kepada kami. Kerusakan makan siang itu dihargai sebesar Rp. 180.000,00 saja (udah sama kerupuk, es teh dll)

Siang itu saya benar-benar merasa bahagia…

Solong Coffee Banda Aceh

This slideshow requires JavaScript.

25 April 2011

ada pemeo yang bilang belum ke Banda Aceh bila belum ngopi di Solong Coffee.

Warung kopi yang berada di Ulee Kareeng Banda Aceh ini bagi sebagian orang dikenal juga sebagai kedai kopi Jasa Ayah. Menurut Pak Syarifuddin, pada awalnya kedai kopi ini memang dinamakan Jasa Ayah, untuk mengenang usaha yang dirintis sejak tahun 1950-an, namun apa daya nama Solong lebih sering diucap pengunjung, sehingga akhirnya kedai kopi ini ditasbihkan dengan nama kedai kopi Solong. Kata Solong sendiri menurut beliau berasal dari kata Tolong, yang ketika diucapkan oleh seorang peranakan Cina terdengar seperti solong. Alkisah diawal sang Ayah berusaha, dia pernah menolong seorang pengusaha cina yang jatuh bangkrut. Sebagai balas jasa, ketika sang tauke mulai berbisnis lagi, dia bercerita bahwa ia banyak ditolong oleh keluarga tersebut. Alhasil sang ayah dikenal sebagai haji Solong

Jl. Teuku Iskandar 13-14A, Ulee Kareng Banda Aceh ¦ buka jam 6 pagi – 11 malam