Digiling, digunting, diemut, dikunyah

Pertemuan dengan seorang sahabat lama menelurkan sebuah pertanyaan. “loe teh masih minum kopi instant 3 in 1 gak sih?”

Dengan senyum saya jawab masih, dan tampak muka teman saya sedikit berubah.

Beberapa bulan terakhir sebuah perdebatan panjang muncul di media sosial, di warung kopi, atau diantara “penggiat” kopi. Kopi itu digiling menurut satu sisi, sementara sisi lainnya melawan dengan tagline bahkan sachetnya gua pakai ngaduk!

Alasan saya masih minum dan menikmati kopi instant ada beberapa.

Alasan pertama adalah kopi instant, terutama yang versi 3in1 adalah metoda paling efisien untuk mendapatkan asupan kafein dan energi. Jumlah energi yang tersimpan pada bulir bulir dalam sachet tersebut cukup besar, hingga kalau penggunaannya berlebih memang bisa membuat badan tumbuh secara radial, bukan vertikal.

Alasan kedua adalah kemudahan dan kecepatan. Untuk bagian ini, kopi sachet tidak ada yang bisa mengalahkan. Tidak butuh terlihat keren atau berfilosofi, hanya dalam hitungan detik, secangkir kopi panas bisa terhhidang, bila air panasnya sudah siap ya

Alasan ketiga adalah melalui kopi sachetan saya bisa mendapatkan gambaran mengenai preferensi rasa mayoritas masyarakat di sebuah daerah. Perusahaan yang memproduksi produk masal selalu mengadakan survey pasar terlebih dahulu sebelum berani menjual produknya di sebuah daerah. Resiko yang ditanggung terlalu besar, sehingga mereka rela membayar biaya penelitian selera pasar yang pastilah besar. Saya tidak (atau belum…… amiiin) memiliki kemampuan sebesar itu, jadi yang saya lakukan adalah dengan membeli produk yang sudah diperjual belikan tersebut.

Tapi merek sama, tampilan sama, barangnya mestinya sama dengan yang dijual diwarung tetangga kan?

Ternyata tidak begitu….

Nescafe 3in1, kopi sachet yang biasa saya pergunakan untuk studi banding, yang dijual di Indonesia, Malaysia, Singapura, Vietnam, China, dan Filipina, ternyata walaupun tampilan kemasannya mirip, ternyata rasanya bisa sangat jauh. Versi Indonesia sangatlah manis, versi Vietnam juga sangat manis tapi rasa kopinya jauh lebih pekat, karena didisain untuk dinikmati sebagai es kopi Vietnam, versi Filipina rasa susunya lebih gurih, dan sebagainya. Walau kemasan mirip, rasa bisa berbeda.

Kadang kita terlalu mencintai sesuatu sehingga kita lupa untuk mengintip hal lain. Buat saya, semua itu bagus, asal kita tahu bagaimana menggunakannya. Minum 3in1 dan mencari detail rasa itu bodoh, seperti membayar kopi puluhan atau ratusan ribu secangkir hanya untuk terlihat gaya karena merek atau jenis kopinya.

Jadi mau digiling, disobek, diemut, atau dikunyah, kalau kita suka, ya biarin aja tho? Yang penting kita tahu bagaimana menggunakannya, dan tidak “digunakan” alias dikerjain kopinya

Cheers,

Bandung, awal Maret 2018

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s