tragedi kopi vietnam

Sebuah berita merebak di jaringan media sosial, seorang wanita meninggal karena minum kopi. Es kopi vietnam tepatnya. Dalam hitungan jam kabar menyebar, dan kantor berita daring mulai ikut menebar berita. Setelah berita daring bercerita, kantor kantor berita konvensional pun mulai ikut bertanya-tanya. Bahayakah minum kopi vietnam?

Ketika saya pertama kali membaca berita di jaringan media sosial, jujur saya tersenyum. Bukan karena mensyukuri, namun terkesima dengan betapa mudahnya seseorang mengaitkan sebuah kejadian dengan berita yang diterbitkan oleh sebuah media daring, tanpa mencoba menganalisanya terlebih dahulu.

Beberapa waktu sebelum kejadian ini terjadi, detik.com menampilkan berita mengenai munculnya industri oplosan kopi vietnam dengan bahan tidak jelas, dengan tujuan menekan harga jual.

Bila ini terjadi di Vietnam sana, saya mungkin akan lebih gampang percaya atas hubungan antara berita tersebut, dengan kematian seorang wanita cantik yang baru menikah ini (Saya rasa point baru menikah ini penting karena selalu diucapkan disetiap broadcast atau pemberitaan). Namun apabila ini terjadi di Vietnam sana, dan bukan disebuah restoran mahal di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta, apakah kabarnya akan seheboh ini?

Mari kita analisa data yang ada. Menurut detik.com, oplosan kopi vietnam ini berbentuk larutan yang dijual dalam bentuk kemasan jerigen. Benda berbentuk larutan adalah hal yang menyebalkan untuk di import. Bukan apa-apa… berat. Selain itu Dinas Kesehatan cukup cerewet untuk meneliti semua bahan makanan dan minuman yang dimasukkan ke negeri ini, yang kadang membuat teman-teman yang harus mengimport barang menjadi gila. Bisakah larutan oplosan itu diselundupkan? Bias saja, namun siapapun yang menyelundupkan pasti suka banget dan masih hidup sehingga niat menyelundupkannya, yang disisi lain, semua kerepotan itu akan membuat harga bahan tidak menjadi murah. Jadi dengan kata lain, ketika sampai ke negeri ini, harganya sudah tidak akan semurah itu.

Hal lain yang harus dipikirkan; restoran tempat kejadian berlangsung adalah sebuah restoran dengan gaya makanan eropa. Koleksi minuman alkoholnya tampaknya cakep-cakep, dengan harga yang tidak murah. Dengan kondisi seperti itu, buat apa restoran tersebut bersusah payah membeli oplosan kopi vietnam yang harganya sudah tidak murah, hanya dipakai di satu produk, dan frekuensi pembeliannya pun tidak sebesar itu. Kalau saya jadi mereka, dan berniat mau mengoplos, mending saya mencari oplosan es the, karena saya jamin angka pembeliannya tinggi, atau minuman keras sekalian, karena margin keuntungannya lebih besar dari segelas es kopi vietnam. Keuntungan yang didapat tidak sebesar itu, dan akan mabok di inventory gara-gara 1 produk tersebut

Apakah kopi itu berbahaya? Kalau kebablasan memang bisa jadi berbahaya sih. Bagaimanapun juga kafein dalam bentuknya yang murni adalah racun yang sangat kuat . Dari penelitian yang dilakukan oleh para ilmuan di luar sana, seseorang bisa meninggal apabila mengkonsumsi 5 gr kafein. 5 gr mungkin terdengar sedikit, namun untuk mendapatkan 5 gr kafein, seseorang harus minum paling tidak 19 L kopi (kalau kopinya diganti jadi robusta, jadi sekitar 8,5 L) Gak usah kopi, minum air mineral sebanyak itu saja kita bisa meninggal.

Apa hanya kafein yang berbahaya? Di kopi sebenarnya ada beberapa hal lain yang akan membuat penikmatnya khawatir. Hal-hal tersebut biasanya terjadi karena proses pasca panen yang serampangan. Kala pasca panen berantakan, kita akan menemukan berbagai jebakan kesehatan, seperti jamur ochratoksin yang bisa mencetuskan munculnya kanker otak bertahun kemudian. Jujur-jujuran, pertama kali saya melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh adalah akibat dari konsumsi kopi vietnam oleh-oleh teman. Tekanan darah melonjak dari biasanya, dan badan tidak nyaman. Cek ini itu, dokter hanya memmberikan obat pengontrol tekanan darah, dengan pesan agar jumlah air putih yang saya minum saya jaga.

Akibat kejadian tersebut sebuah pertanyaan sempat dilontarkan tadi sore, seberapa ketat sih seleksi calon pegawai bagi seorang barista? Sejauh yang saya tahu, tidak semua kedai kopi bahkan mewajibkan calon baristanya melampirkan SKCK alias SKKB dari kepolisian. Hanya sedikit yang diminta melakukan tes psikologi karena banyak kedai kopi tidak mampu untuk melakukannya. Banyak pegawai menjadi seorang barista hanya berdasarkan surat lamaran, referensi teman, atau bagi yang beruntung, dipinang kala sedang bekerja di warung orang.

Saya pribadi berharap kasus ini cepat terungkap agar semua spekulasi tidak berdasar bisa reda. Saya berharap keluarga yang ditinggalkan diberi ketenangan, dan restoran yang sial menjadi TKP bisa kembali ramai. Walau tidak ada alasan untuk khawatir memesan kopi, namun bila belum nyaman, memesan yang lain juga tidak apa-apa kok.

Ada yang mau mentraktir single malt whisky? 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s