kalah di negeri sendiri

Halo blog, senang bertemu lagi setelah sekian lama…….

Beberapa bulan Indonesia Barista Championship 2015 telah berlalu dan satu hal besar masih menempel di kepala.

Bahwa juara-juaranya menggunakan kopi import dan bukan kopi negeri sendiri.

Salah atau benar, akan menjadi perdebatan panjang. Tapi bagaimanapun mereka bertanding untuk menang, dan buat saya sah-sah saja mereka menggunakan kopi-kopi cantik yang tidak murah tersebut.

Namun tetap hal tersebut menyisakan sebuah rasa perih di hati. Kenapa harus kopi import?

Bertahun-tahun para barista yang bertanding di kompetisi ini menggunakankop negeri ini. Kompetisi ini berhasil mengangkat micro-micro region yang belum pernah kita dengar sebelumnya. Varietal diceritakan, hingga kehidupan petaninya menjadi rangkaian presentasi ketika kompetisi. Namun Tahun ini itu berhenti.

Kopi-kopi import cantik dipergunakan, dengan harga yang mana tahan. Kopi-kopi yang bisa menawarkan rasa tidak hanya karakter coklat, kacang, rempah, atau sejauh jauhnya jeruk limau, tetapi bisa hingga aroma melati, pepaya, dan buah-buahan yang bagi kita orang Indonesia terdengar eksotis. Bukan hanya sebuah gambaran rasa besar yang dijanjikan, namun beberapa karakter spesifik yang bisa ditawarkan

Mengapa kopi kopi import ini bisa sesakti itu? Apakah hanya karena kopi-kopi tersebut bersifat eksotis, hanya bisa dibeli mereka yang mampu, sehingga mereka terlihat spesial?

Bila kita melihat proses pasca panen yang diaplikasikan pada kopi-kopi tersebut, memang terlihat kopi yang tersebut disiapkan menjadi juara. Konsep micro lot diterapkan dengan ketat, diperlakukan secara detail hingga titik kopi dikirim ke pelanggan. Penanganan ala micro lot ini memastikan kualitas kopi prima. Kopi dipanen dari sebuah area spesifik, dan dikelola dengan tata cara yang spesifik pula. Uji citarasa dilakukan berkala, untuk melihat proses pasca panen mana yang mumpuni, tidak hanya untuk menaikkan harga.

Bisakah proses tersebut dilakukan di Indonesia?

Sebetulnya jawabannya kenapa tidak. Namun dengan struktur tata cara tanam dan dagang saat ini masih agak susah. Masih terdapat jurang informasi antara penghasil dan pengguna. Datangnya pengguna ke penghasil seringkali menimbulkan kebingungan. Pengguna yang seringkali tidak memiliki kapital yang cukup untuk membantu pengelolaan pasca tanam yang baik sering membuat beban ekonomi penghasil bertambah dengan percobaan-percobaan jangka pendek. Disisi lain, penghasil di beberapa daerah terjebak dengan pola tanam moyang, atau terlalu mengikuti kemauan pengguna, sehingga akhirnya kopi yang dihasilkan tidak konsisten. Karena tidak konsisten sang penghasil ditinggalkan pengguna lainnya, membuatnya kehilangan sebagian dari mata penghasilan.

Kunci dari pengembangan kopi juara adalah kerjasama jangka panjang antara penghasil dan pengguna. Buka hanya kolaborasi jangka pendek demi kejuaraan di tahun ini atau depan, namun untuk 3 hingga 5 tahun ke depannya. Sebuah komitmen jangka panjang, yang jika berhasil tidak hanya akan menimbulkan sebuah produk berkualitas, tapi juga terbentuknya sebuah keluarga.

Ingin agar kopi indonesia kembali berjaya di kancah pertandingan barista?

Semua harus dimulai dari kita. Merubah pola pikir kerjasama jangka pendek semata. Bersama kita bisa. Saya selalu percaya hal itu. Lupakan kebanggaan kosong yang menggelembungkan harga bahan. Kopi kita sendiri kalah dimata kompetitor pengguna. Mau sampai kapan ini kita biarkan ini terjadi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s