Coffee Killer

Enak itu selera, saya setuju dan percaya sekali dengan itu, namun pertanyaan “kopinya enak gak mas?” sering kali membuat gamang saya yang memiliki kemampuan basa-basi relatif minim ini.

Saya selalu menikmati perjalanan ke daerah. Dalam setiap perjalanan, pasti ada saja hal baru yang saya pelajari. Dalam perjalanan pula saya dapat bertemu dengan muka-muka yang menggeluti larutan hitam yang mewarnai hidup saya sehari-hari. Namun ada masa dimana dalam perjalanan itu saya mengalami dilema, apakah lebih baik menjaga muka, atau jujur apa ada.

Bukan apa-apa. Saya yang datang sebagai penikmat seringkali datang ke daerah dengan sebuah persepsi rasa. Persepsi rasa yang ada, dibentuk oleh pengalaman mengecap kopi sangraian roaster-roaster berpola pandang modern, yang membatasi waktu sangrainya sekitar 20 menit saja. Sementara ketika berkunjung ke daerah, mereka terbiasa dengan pola sangrai tradisional. Pola sangrai yang kadang bisa memakan waktu hingga 4 jam lamanya.

Apakah yang membedakan antara sangrai 20 menit-an dan yang berjam-jam? Saya tahu roasting hanya dari teori, dari membaca dan menguping perbincangan teman-teman roaster, namun yang bisa saya garis bawahi adalah, semakin lama biji kopi disangrai, maka hingga di satu titik, karakter rasa yang ada akan luruh. Peluruhan karakter rasa ini biasa didefinisikan dengan satu kata sakti. Kata yang bagi sebagian penikmat kopi modern langsung terbayang kopi yang sudah “mati” Kata tersebut adalah baked.

Proses peluruhan rasa pada kopi yang disangrai terlalu lama ini tidak pandang bulu. Baik karakter positif maupun negatif akan hilang, meninggalkan kita dengan karakter kata pahit yang biasa kita rangkum dengan kata rasa kopi. Bila kita mengharapkan karakter halus kopi menggoda lidah, proses sangrai lama akan membebaskan kita dari godaan, karena godaan tersebut sudah menguap bersama asap kala sangrai. Namun disisi lain,sisi positifnya, karakter rasa negatif yang dihasilkan dari biji-biji dengan muatan cacat tinggi pun akan hilang tersamar, sehingga sang kopi terasa aman kala diseruput.

Disinilah dilema yang saya sebut diatas seringkali terjadi. Pertanyaan atas kualitas kopi yang saya sesap membuat otak berpikir. Sedih ketika biji baik yang dipergunakan dihapus rasanya oleh proses sangrai yang salah, namun lebih sedih lagi ketika karakter negatif dari biji-biji sisa sortiran menari bahagia di lidah, akibat proses sangrai yang mencoba mengadaptasi pola sangrai modern.

Ya, enak itu berbeda-beda. Saya sadar dan percaya hal itu. Sebagai orang timur kita diajarkan untuk menjaga muka. Pasang muka tersenyum, dan coba dengan sekuat tenaga, memaksa diri untuk bilang enak. Tapi disisi lain, saya merasa kalau itu dilakukan, proses pembodohan dilaksanakan. Yes, ignorance is a bliss, tapi mau sampai kapan hal ini terjadi. Tidak mudah bagi saya untuk menjelaskan mengapa saya tidak menikmati kopi yang disuguhkan. Tidak mudah karena harus menjabarkan dua pola pandang yang berbeda.

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Coffee Killer

  1. malam mas hadi…
    saya mau tanya nich mas, letak bedanya kualitas rasa kopi jantan ( pearbeary) dengan yang betina dimana ya? ty

    1. Peaberry dipercaya memiliki intensitas rasa. Dari pengalaman, walau blom pasti lbh enak, peaberry memang menawarkan rasa yang lebih menarik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s