keputusan kelompok

Sabtu lalu sebuah ketidak PD-an melanda diri. Pagi itu sebuah seleksi akan dilakukan, untuk memilih 12 dari 27 orang penguji citarasa (cupper) yang akan membantu menilai kopi di final Lelang Kopi Specialty yang diadakan Asosiasi Kopi Specialty Indonesia. Berada diantara peguji citarasa Internasional dari Korea, Taiwan, Hongkong, Amerika Serikat, Mexico hingga Australia membuat rasa percaya diri yang biasanya ada ciut entah mengapa. Beberapa diantara mereka menyandang gelar sebagai pelatih dari Coffee Quality Institute, beberapa memiliki laboratorium terstandar SCAA, dan beberapa yang lain merupakan pembeli kopi dari perusahaan-perusahaan besar. Dari 27 orang tersebut, hampir setengahnya adalah orang-orang hebat tersebut.

Hari dimulai dengan proses kalibrasi. Kalibrasi ini bertujuan untuk menyamakan persepsi antar cupper, hingga ketika nanti diminta menilai, tidak ada penguji citarasa yang melenceng jauh lepas dari kelompok.  ke 27 orang tersebut dibagi menjadi 4 kelompok, dan setiap kelompok diketuai seorang pelatih CQI. Saya merasa beruntung karena meja saya dikepalai oleh Manuel Diaz. Bukan apa-apa, beda guru beda gaya, demikian juga dengan para pelatih CQI. Hal pertama yang berbeda ketika menguji citarasa dengan Manuel Diaz adalah perlakuan terhadap bubuk kopi yang hendak dicium baunya. Bila biasanya seorang penguji citarasa mengangkat gelas tersebut, mengetoknya sedikit dengan tangan, agar bau bubuk kopi kering  bisa lebih tercium, maka di meja kami, hal tersebut tidak diijinkan. Alasan mr. Diaz melarang adalah agar antara sample yang satu dan lainnya, walau dalam kelompok yang sama, tidak ada kesempatan tercampur. Masuk akal, walau membuat proses sedikit lebih susah. Setelah semua sudah mencium dan air kemudian dituangkan, tampak beliau mulai mencium perubahan aroma setiap gelas satu persatu. Awalnya saya bingung kenapa beliau melakukannya, tetapi, tidak ada salahnya diikuti, dan mengekorlah kami ber 5 dibelakang beliau. Setelah beberapa kali berkeliling meja dan membaui, waktu seduh 4 menit telah habis. Agar adil, kami diberi kesempatan memecah 1 dari 5 sample yang ada. Biasanya, setelah sample jatah kita sudah kita pecahkan permukaaan atasnya, kita masih akan menganalisa 4 sample lainnya untuk melihat inkonsistenitas. Kali ini yang dilakukan berbeda. Segera setelah 5 sample tersebut dipecahkan permukaan atasnya, Mr Diaz meminta kami segera membersihkan sample-sample tersebut dari rambangan, sebersih mungkin. Menurut beliau, sedikitpun minyak yang tersisa ikut terbawa ketika kita mengicip, maka lidah kita akan tertutup oleh lapisan minyak tersebut dan penilaian kita tidak akan akurat. Ilmu baru!

Kopi dicicip, nilai ditulis, dan kami dikumpulkan ke ruangan. Disini nilai dibahas, dan para instruktur pun memberikan penilaian mereka. Ini baru namanya kalibrasi, tidak hanya menilai, dikumpulkan dan gak jelas  artinya apa. Dalam kalibrasi ini kita bisa melihat apakah kita terlalu pelit atau terlalu royal dalam satuan kelompok. Pada saat kalibrasi ini terlihat bagaimana mereka yang berasal dari negeri pembeli cenderung menilai lebih tinggi kopi-kopi yang dinilai. Penguji citarasa lokal, cenderung lebih kritis dibanding mereka. Para penguji citarasa dari Jember bahkan lebih kritis lagi. 

Setelah kalibrasi, kami diminta kembali ke ruangan. Kali ini bahan yang diminta diuji citarasa merupakan bahan ujian kami. Karena bagi meja yang lain hembusan AC mengganggu kala harus menilai bau kering dan basah, maka untuk paruh pertama AC tersebut dimatikan dan ruangan menjadi panas. Karena meja kami dekat dengan grinder, maka dengan segera kami melakukan proses uji citarasa kami.

Giling-Cium-Seduh-Cium, dilakukan dalam ruangan yang semakin lama terasa semakin panas. Keringat sebesar butiran jagung tampak menetes dari kepala Mr. Diaz. keringat terasa pula menetes dikepala saya. Dalam kondisi panas saya melakukan putaran 1 dari 3 putaran wajib ketika menguji citarasa kopi. Kopi harus diuji dalam 3 putaran karena ketika waktu dan temperatur berubah, karakternya akan berubah pula. Baru pada putaran ke 2 AC bisa dinyalakan lagi, dan ketika saya melakukan penilaian ke 2, saya kaget dengan apa yang masukkan pada putaran pertama 1 tadi. Entah karena badan yang terasa tidak nyaman karena suhu yang panas, atau memang karakter rasa kopinya belum mengembang dengan cantiknya, nilai pada putaran 1 tadi tampak sangat rendah dibandingkan apa yang saya rasakan di penilaian ke 2 ini. Nilai rendah tersebut saya koreksi dan sergera setelah putaran ke 3 selesai, lembar penilaian saya kumpulkan.

Butuh waktu sekian lama hingga hasil keluar, dan alhamdulillah saya ada diantara 12 orang tersebut. Tapi hal yang menarik dari 12 orang ni adalah, sebagian besar merupakan para penguji citarasa yang berbasis di Jakarta, yang dulu memang sering berkumpul dan menguji bersama. hanya 2 dari 4 pelatih CQI yang masuk, dan tidak ada satupun penguji citarasa Australia yang terpilih. Kesimpulan kasar yang saya ambil dari kejadian ini adalah, sebaik apapun kita sebagai penguji citarasa, ketika kita menguji diluar area/kelompok kita, bisa jadi kita akan tersisih. Tersisih tidak berarti bahwa penguji citarasa tersebut memiliki kemampuan yang kurang. Tersisih berarti bahwa setelan rasanya berbeda dengan sebagian besar kelompok yang ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s