coffee cupping vs coffee tasting

Siapa yang pengen belajar cupping? saya yakin bila anda seorang yang sedang terbius oleh kopi, ada sedikit hasrat untuk belajar sebuah ilmu yang menjadi dasar menilai sebuah kopi baik atau buruk. Namun apa sih cupping itu?

Cupping pada dasarnya adalah sebuah metoda mencoba kopi yang memiliki SOP yang sangat ketat. Disini miligram berarti, detik dihitung dan 1 derajat celcius bisa membuat perbedaan. Cupping didisain untuk menjadi sebuah alat terstandarisasi untuk melakukan sebuah penilaian pada kopi. Pentingkah belajar Cupping? well… tergantung. Kalau kita hendak bekerja dibidang kopi, mengerti tata cara cupping akan sangat membantu. Paling tidak ketika kita diberikan selembar kertas dengan berbagai kategori dan angka didalamnya, kita akan mendapat sebuah bayangan seperti apa kopi yang nanti akan kita hadapi nanti.

Lalu kalau bagi saya belajar cupping gak sepenting itu, apakah yang lebih penting? Yang lebih penting adalah belajar merasa!

Merasa, mengecap, atau memilah rasa mungkin tampak remeh buat sebagian besar orang, tapi kemampuan inilah yang membuat seorang barista bisa menjadi seorang juara, seorang somellier bisa memilihkan, menyimpan, atau berspekulasi soal wine, serta seorang chef bisa mendapatkan bintang Michelinnya. Dari kebiasaan untuk berhenti sejenak kala makan atau minum, mencoba berpikir sambil memilah karakter rasa apa yang ada, mengingat dan memasukkannya ke dalam perpustakaan definisi rasa yang ada di otak kita, kita nantinya bisa menggunakan database itu itu menyusun rasa menjadi sebuah resep yang menawan. Bagi saya pribadi, inilah kelemahan manusia F&B negeri ini. Mau yang bergelar sommelier, chef, barista, bartender, jarang dari mereka yang mencoba memperkaya khasanah rasa yang dimiliki dalam otaknya. Kata-kata standar yang biasa dibaca akhirnya seringkali menjadi acuan, dan produk makanan minuman atau makanan yang mestinya mengugah, seksi dan eksotis, hilang dibalik 1 kata yang bagi saya terdengar basi, yaitu kata Enak.

Secara biologis, manusia dibagi menjadi 2. Mereka yang memiliki indera pengecap normal, dan mereka yang sangat peka indera pengecapannya (super taster). Seorang cupper tidak butuh memiliki indera pengecapan yang sangat peka. Mereka yang memiliki indera pengecapan sangat peka bahkan biasanya tidak akan bisa menjadi seorang penguji citarasa. Karena pekanya indera mereka, sebuah rasa kecilpun bisa membuat mereka kalangkabut. Jadi jangan rendah hati bilang tidak bisa mengecap karena kita bukan seorang super taster.Ā 

Belajar merasa (dan membaui) itu mudah dan murah. Kita bisa melakukannya sambil kita menjalani hidup. Apabila kita merasa kopi yang kita minum terasa asam, ayo kita pikir lagi, asamnya seperti apa. Asam Jeruk kah? kalau jeruk jeruk sunkist atau jeruk medan kah? Bagian mana dari jeruk tersebut yang merangsang lidah atau hidung kita; daging buah, kulitnya, bagian purtihnya, daunnya? Bayangkan, dari karakter jeruk saja banyak deskripsi yang bisa kita gambarkan. Apakah butuh ilmu tinggi untuk melakukannya? Saya rasa tidak. Apabila bila belajar untuk lebih memperhatikan apa yang masuk mulut atau menggoda hidung kita, kita semestinya bisa.

Manusia memiliki kemampuan mengecap yang luar biasa, dan kemampuan mengingat rasa yang luar biasa pula. Namun kita biasanya memiliki kesulitan kala mencoba menghubungkan sebuah bau/rasa yang kita coba, dengan padanan kata yang ada di kepala kita. Bagaimana kita bisa melatih menghubungkan bau/rasa dengan padanan kata? dengan mengicip kopi bareng teman dan mendiskusikan karakternya seperti apa.Ā 

Setiap orang memiliki perbendaharaan rasa/bau yang berbeda-beda. Secara tidak sadar kita sudah menyimpan perbendaharaan tersebut selama hidup kita, dari makanan atau minuman yang kita makan sehari-hari. Karena dilakukan secara otomatis, maka seringkali kita tidak sadar bahwa kita sudah memiliki perpustakaan definisi rasa/bau di otak kita tersebut. Yang seringkali membuat kita tidak berani mengungkapkan padanan rasa/bau diotak seringkali adalah perasaan takut salah atau malu terlihat kampungan. Lha kalau wine yang saya minum mengingatkan saya dengan juwet atau durian, kenapa orang lain berhak protes? Wong yang punya hidung dan lidah ya saya.

Kembali ke cupping, ayo jujur-jujuran, mana yang terdengar lebih menarik, bahwa kopi itu memiliki angka 81, atau bahwa kopi tersebut memiliki karakter paduan karamel gula enau sedikit gosong dan bubuk cocoa, dengan sedikit aroma kulit jeruk sunkist, aroma ketumbar hijau, lada hitam, dan cabai kering, dengan akhiran yang meningatkan kita dengan gurih pahitnya alpukat yang dekat bagian kulitnya?

Buat saya, dalam konotasi diatas, angka 81 tersebut tidak menggambarkan apa-apa

Advertisements

5 thoughts on “coffee cupping vs coffee tasting

  1. “Buat saya, dalam konotasi diatas, angka 81 tersebut tidak menggambarkan apa-apa”

    Said it like a Sir šŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s