Generalisasi rasa

“Think Toraja, think a deep coffee. Renowned for its syrupy body, intense flavor and earthy tones.”

 

“Rich caramelly aroma and to its deep, full-flavored, buttery, heavy-bodied brew that is strong and has a lasting aftertaste”

 

“undertones of ripe fruit and dark chocolate, Toraja coffee tends to have a relatively low-toned yet vibrant acidity, though usually slightly more acidic and with less body than Sumatran coffees and more earthy than Java Arabica.”

 

“a clear unmistakable fragrance, an intense yet creamy body with just a hint of spiciness in its flavour.”

 

“A wild coffee with a lot of variation between cups, rich body with nice depth and a deep herbal aroma”

Deskripsi diatas adalah kata-kata yg dipergunakan beberapa roaster/penjual green bean untuk kopi toraja. Jauh banget ya perbedaannya antara pihak yang satu dan lainnya 🙂

Namun apa toraja yang membuat saya jatuh cinta lebih jauh lagi karakternya. Toraja yang merubah hidup saya memiliki karakter citrus yang kuat, kombinasi antara jeruk-lemon-dan kulit jeruk, dengan body yang tidak terlalu tebal, rasa yang cenderung manis, terasa bersih tidak ada karakter earthy atau spicy, dan memiliki aftertaste yang sangat panjang.

Tadinya saya pikir bahwa kopi pujaan hati ini memang hanya bisa didapatkan dari 1 kebun/perusahaan milik jepang saja di Tana Toraja, tetapi setelah saya berkesempatan menikmati secangkir kopi dirumah seorang pengumpul, pikiran saya ternganga.

Sore itu setelah proses shooting cukup spartan, karena kejar-kejaran dengan hujan. Kami disuguhi kopi oleh sang bapak. Sang bapak meminta maaf karena kopinya ini hanyalah kopi yang dia dapatkan dari kebunnya sendiri yang tidak seberapa besar di Tondokliktak. Tidak melalui proses sortir yang ketat, dan disangraikan oleh orang lain di Rantepao. Terbiasa dengan kopi yang disajikan petani, mulut bersedia menghadapi terjangan rasa kopi yang disangrai sangat gelap hingga rasanya cenderung mati/flat, kadang dapat bonus rasa yg penuh dengan karakter funky, atau sudah diberi gula hingga manis sekali. Namun kopi yang diseruput beda jauh sekali dengan apa yg muncul diotak. Kopi terasa ringan dan cantik, dengan body yang cukup tebal sehingga dapat memuaskan lidah sebagian besar crew, namun terasa bersih dan halus sehingga membuat saya terpesona. Memang tidak ada karakter citrus dari kebun jepang tersebut, tapi jauh dari karakter2 spicy/earthy/herbal/syrupy yang dijelaskan oleh kutipan diatas.

Kopi sang bapak jujur terasa jauh lebih menarik dari kopi-kopi Toraja yang biasa saya temui di Jakarta. Lebih banyak bisa bercerita dan rasanya tidak rata begitu saja. 

Kenapa ya bisa begitu?

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Generalisasi rasa

  1. gak tau juga yah.. tapi bener kan, kopi Toraja asli itu mmg kerasa ringan tapi lekat banget di ingatan. Anehnya, kopi Toraja asli itu menurut saya tdk cocok dijadiin capuccino. Ia harus tetap jadi black coffee saja..

    1. ayo coba diulik 😀 Kemarin-kemarin sempat seduh sebagai espresso, dan rasanya seperti kecap asin!, minggu ini berencana mengekstrak lg sbg espresso. Mari kita lihat hasilnya seperti apa 😀

  2. bisa minta nomor hp/pin bbnya gak mas, mau nanya2 ni tentang coffee, soalnya mau buka cafe gitu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s