ora et mabora di Singaraja Bali

Singaraja, Bali utara. Walau entah sudah berapa kali saya ke Bali, baik jalan darat apalagi naik pesawat, baru kali ini saya mampir ke kota ini.

Sang pengemudi / local guide (emang orang Bali selatan, tapi dia jauh lebih lokal daripada saya hehehe) bercerita soal bagaimana Singaraja akan kembali diposisikan sebagai kota pendidikan seperti beberapa puluh tahun yang lalu. Menurutnya banyak sekali tokoh nasional dari Bali yang menghabiskan sebagian hidupnya disini, sebagai seorang pelajar atau mahasiswa.  Mulai dari sekolah menengah hingga akademi atau universitas membangun kampus mereka disini. Gosipnya bahkan Universitas Udayana pun akan hijrah kemari. Bila pulau jawa memiliki Bandung dan Jogja, Singaraja akan menjadi pusat pendidikan dipulau dewata ini

Namun selain pendidikan, ada hal lain yang menarik dari kota ini. Diantaranya;

Gadis-gadisnya tampak cantik dan jauh lebih natural daripada yang saya lihat di Bali selatan, apalagi disekitaran kuta-legian. Sang pengemudi bercerita bahwa mereka juga terkenal lebih ramah dan hangat, bahkan bila dibandingkan dengan mereka yang tinggal di Denpasar

Pabrik kopi Banyuatis, penguasa peredaran kopi bali utara memiliki pabrik mereka berada disekitaran Singaraja

2 industri minuman keras dengan kualitas yang terkenal cukup bagus, satu baru jalan, satunya lagi udah dari entah kapan 😀

Kopi nanti akan dibahas sendiri ya, sekarang mari bercerita soal minuman keras 😀

Gwan Gwan Ho adalah arak beras Bali buatan sebuah keluarga keturunan cina yang telah lama bermukin di Singaraja.  Entah sudah berapa puluh tahun atau berapa generasi mereka memproduksi minuman keras ini. Dulu ketika masih dianggap ekonomis, Gwan Gwan Ho atau lebih dikenal sebagai GGH ini merupakan minuman wajib yang harus disajikan bila ada acara atau upacara. Karena semakin lama harga semakin tinggi (kemarin beli dengan harga Rp.65.000,00 untuk ukuran botol bir besar), maka GGH ini akhirnya hanya disajikan bagi tamu-tamu kehormatan saja. Tamu biasa… minum arak buatan karangasem saja…

Apa yang membuat GGH spesial? Yang pasti arak ini memiliki karakter aroma yang cukup kuat dan menarik. Ketika didekatkan dengan hidung, tercium aroma lembut yang manis, dengan sedikit wangi bunga dan buah buahan. Wanginya sedemikian menarik, hingga ingin rasanya untuk terus mencium wangi larutan yang ada didalam gelas. Ketika diseruput, terasa larutan sakti ini dengan halus meluncur masuk, sambil menebar aroma harum tersebut keseluruh pelosok  mulut. Tidak ada karakter kasar tersisa, semua terasa bersih, halus dan bulat.

Walau karakternya yang terdengar cemen, jangan sangsikan kesaktian minuman yang satu ini. Belum habis 3 oz dalam gelas, badan sudah terasa ringan dan nyaman. Berhubung besoknya harus bangun subuh dalam kondisi segar, ciutlah keberanian untuk menambah. Terngiang cerita sang pengemudi bahwa GGH memiliki reputasi sebagai pengencer lutut. Dalam jumlah yang pas (atau berlebih), lutut akan terasa encer, hingga hampir mustahil kita bisa berdiri.

Dalam beberapa kasus, GGH ini merupakan pengganti sake yang cukup digemari jepang-jepang kere, atau larutan dasar untuk membuat red label tipuan. Sedikit lemon tea dan brem bali, masukkan ke dalam botol, dan Voilla….. Red Label bhoongan.

Minuman keras lainnya adalah sebuah weissbier buatan lokal, belum berlabel namun sudah mulai uji pasar disekitaran kuta-legian-seminyak. Bir made in Singaraja bernama Stark ini adalah bir lokal buatan pulau dewata kedua setelah Storm beer. Bir ini jujur sudah masuk dalam daftar misi saya pada kunjungan kali ini. Otak saya yang pelupa terbantukan oleh kemampuan twitter dalam berbagi informasi. Bir dalam botol polos (karena ijin resmi belunm keluar hehehe) ini saya temukan disebuah BeerGarden di area sekitaran Tuban.  Botol coklat dengan motif timbul berbentuk bintang di dekat lehernya disajikan dengan temperatur yang cukup dingin.  Aroma citrus menyeruak dengan kuat, diikuti dengan larutan manis (untuk ukuran bir – jangan dibandingin sama teh manis ya) dan creamy. Ketika temperatur agak turun, karakter citrus tersebut sedikit berkurang, menyisakan karakter larutan khas bir gandum yang gurih dan creamy. Walau mazhabnya berbeda, mereka yang terbiasa minum Corona dengan potongan lemon dicemplungkan kedalam botol rasanya patut mencoba bir yang satu ini.

Sayang karena perijinan yang belum lengkap, saya tidak diijinkan untuk membeli satu atau dua botol bir ini untuk oleh-oleh. Di tempat tersebut Stark beer dihargai Rp.45.000++ per botolnya. Semoga ijinnya cepat keluar, sehingga punya alternatif selain Storm Beer ketika ingin meminum bir buatan lokal yang bukan major label. Bukannya saya gak suka Storm, tapi pilihan akan selalu menyenangkan

Advertisements

2 thoughts on “ora et mabora di Singaraja Bali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s