Dilema Gayo

Sebuah kesempatan membawa saya ke tanah tinggi gayo. Sebuah area yang terkenal sejak dahulu kala, sebagai daerah penghasil kopi utama di ujung tanah sumatera. Pagi hari setelah menjelang subuh mencapai Takengon, limpahan sinar matahari tampak membias dengan cantiknya dipermukaan danau laut tawar. Segala rasa capai atas perjalanan panjang dari Banda Aceh, dan resiko menginap ditengah hutan dalam perjalanan, hilang dalam rangkulan hangatnya matahari pagi dan indahnya pemandangan dari lantai 3 penginapan. Saya sudah tiba, disini, dijantung daerah penghasil kopi terbaik di Indonesia.

Kopi Arabika dataran tinggi gayo dihasilkan di 2 kabupaten, yaitu Kabupaten Aceh Tengah dengan kota Takengon sebagai kota besarnya, serta Kabupaten Bener Meriah dengan Simpang Tiga Redelong sebagai kota pemerintahannya. Aceh Tengah terdiri dari 14 kecamatan, sementara Bener Meriah terdiri dari 7 kecamatan. Walau letaknya bersebelahan, karakter kopi yang dihasilkan bila ditelaah seringkali bisa berbeda, tergantung siapa yang menanam, dan kultivar apa yang mereka pergunakan. Perbedaan inilah yang membuat kopi gayo tampak cantik di mata saya.

Jalanan yang jauh lebih mulus daripada jalan disekeliling kebun kopi di jawa ,membuat perjalanan dari satu ke kebun lainnya terasa mudah. Dari pinggir jalan tampak deretan pohon kopi, baik yang terawat maupun yang tampak terbiarkan liar. Bunga-bunga kopi putih tampak menyembul dibeberapa pohon, sisa dari periode mekar beberapa hari sebelumnya. Semerbak wangi campuran melati, jeruk, dan madu tercium tipis kala kendaraan melewati beberapa rumpun pohon kopi. Wangi halus yang memabukkan, wangi tipis yang membuat wajah merona bahagia.

Ditengah alam yang indah, angin semilir, dan pemandangan kebun kopi menghampar didepan mata, perbincangan kecil dengan pak Mustafa Ali, ketua Forum Kopi Aceh, membuat saya terhenyak. Dengan kebahagiaan yang tampak memancar dari matanya, beliau berujar bahwa dalam periode puluhan, bila tidak ratusan tahun kopi ditanam di tanah gayo, baru tahun ini, harga ditentukan oleh petani, dan bukan oleh pedagang yang notabene orang luar daerah. Panen yang tidak sebesar biasanya dihampir seluruh area penghasil kopi di dunia ini, serta permintaan dunia akan kopi-kopi berkualitas telah membuat harga kopi meroket naik. Apa yang dulu dibayarkan untuk 1 kg kopi pilihan terbaik negeri ini dari eksportir di medan, sekarang hanya mampu membeli kopi asalan (yang belum disortrir) di tangan petani, dengan jumlah setengahnya. Itupun bila barangnya ada.

Terhenyak, karena pada saat inilah kesejahteraan petani benar-benar terangkat. Walau secara kuantitas produksi menurun, namun peningkatan harga yang sangat signifikan tetap memberikan mereka pendapatan yang lumayan. Mereka memiliki kemewahan besar, yang mungkin baru mereka rasakan seumur hidup mereka, untuk menentukan sendiri harga jerih payah mereka di kebun.

Terhenyak, karena disisi lain, di otak terdengar jeritan teman-teman di Jakarta dan Medan, yang bekerja sebagai roaster, penjual, atau eksportir. Harga kopi yang terus melonjak dan ketersediaan barang yang terbatas membuat mereka pusing tujuh keliling, hingga bahkan membuat beberapa gulung tikar. Roaster belum berani menaikkan harga yang mereka bebankan kepada konsumen mereka, apabila mereka masih memiliki persediaan biji, sementara pedagang atau eksportir banyak yang terjebak dengan kontrak pengadaan jumlah tertentu, dengan harga yang disepakati sebelumnya.

Sebuah dilema muncul. Bahagia karena kesejahteraan petani meningkat. Sebuah harapan tercapai. Harapan yang dicanangkan ketika memutuskan untuk berkecimpung dibidang ini. Namun disisi lain, beberapa kekhawatiran muncul. Khawatir karena banyaknya eksportir yang gulung tikar berarti cukup banyak ibu-ibu penyortir kopi dan bapak-bapak pemanggul karung yang kehilangan pekerjaannya. Khawatir bahwa harga yang meningkat memaksa para roaster menaikkan harga, yang berakibat surutnya minat penikmat kopi Indonesia untuk mengeksplorasi kekayaan bangsa sendiri. Khawatir apa yang terjadi bila harga terus meninggi, permintaan terus tinggi, namun kerakusan manusia berkuasa. Kopi kualitas jelek dicampur yang bagus, yang dapat membuat kecewa penikmat kopi dibelahan dunia sana.

Jangan sampai kejadian kopi flores bertahun lalu terulang kembali ditanah Gayo ini.


Advertisements

2 thoughts on “Dilema Gayo

    1. dulu flores sempat populer. Ditengah kepopulerannya, ada beberapa pedagang nakal yang mencampur kualitas bagus dengan jelek demi mendapatkan uang lebih. Pencampuran yang membuat kualitas turun tsb membuat murka pembeli dari luar negeri dan reputasi flores hancur. Reputasi yang hancur membuat permintaan hilang dan harga jatuh. Butuh beberapa ahun usaha keras untuk membuat para pembeli tersebut kembali melirik kopi dari flores.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s